Purworejo berirama, itulah sebutan tanah kelahiranku. Suasana pedesaan yang begitu indah, udara yang sejuk..mengingatkan ku pada masa masa dulu tinggal di desa itu. Lumayan cukup lama aku tak pulang ke kampung halamanku dikarenkan kesibukanku di perantauan. Ingin rasanya pulang..menghirup udara segar tanpa polusi seperti di sini. Bertemu dengan sahabat kecilku, saudara dan alunan binatang malam yang selalu menemani tidurku.
Aku pun mengajukan cuti 2 hari untuk pulang ke kampungku. Rabu sore, sepulang dari tempatku bekerja aku merapihkan pakaianku. Setelah salat isya aku berangkat menuju stasiun kereta,lalu ku beli sebuah tiket dengan jurusan purworejo. Menunggu lagi, dikabarkan kereta yang akan aku tumpangi mengalami keterlambatan. Rasa jenuh, bosan, itulah yg ku alami sambil duduk di peron stasiun. Setelah sekian lama,akhirnya datang juga sebuah ular besi bermata satu itu. Aku pun bersiap siap. Setelah berhenti, aku pun masuk ke gerbong no 3. Dan ku cari tempat duduk ku sesuai tiket yang aku beli. Didalam kereta kulihat banyak para pedagang yang berjualan. Mereka mencari nafkah untuk keluarganya tanpa mengenal lelah. Disaat semua orang menikmati kehangatan bersama keluarga di rumah, dia berjuang melawan dinginnya malam untuk mencari sesuap nasi. Tak jarang juga ku lihat para pengemis yang meminta minta. Dimana indonesia yang katanya ramah,gemah ripah loh jenawi..semua hanya sebatas dongeng para orang tua dikala menidurkan anaknya.
Tak terasa 9 jam telah berlalu, keretaku semakin mendekati kota kelahiranku, tinggal beberapa menit lagi aku sampai di stasiun kutoarjo. Kupandangi sawah..yang menghijau dari dalam kereta. Mentari pun sudah menampakkan dirinya dari sebelah timur. Tak terasa kereta pun berhenti di stasiun tujuanku, ku raih ransel ku yang kuletakkan di bagasi atas. Ku berjalan turun dari kereta dan mencari mushola..aku belum solat subuh, akhirnya di sebelah kanan paling ujung stasiun terlihat juga apa yang kucari..lalu ku hampiri mushola itu, ku ambil wudhu dan mengerjakan solat subuh. Selesai solat aku pun meninggalkan stasiun itu dan mencari angkutan umum menuju desaku. Tak lama kemudian datang sebuah angkutan berwarna merah. Aku pun segera menyetopnya dan naik ke angkutan itu. Hanya 15 menit aku sudah sampai di pertigaan desaku. Aku pun turun di situ di lanjutkan dengan berjalan kaki. Kulihat kanan kiri masih seperti dulu sawah yang membentang luas tiada batas. Air sungai yang masih jernih tempat dulu aku berenang mengisi waktu sepulang sekolah bersama sahabatku. Entah bagaimana keadaan dia setelah selama ini tak bertemu. Kulanjutkan perjalananku hingga ku lihat rumah sederhana berdinding bambu yang di anyam,dan sebuah sumur di sebelah kirinya. Ku berjalan mendekat ke rumah itu..masya allah rumah tempat tinggalku tidak ada perubahan sedikitpun hanya tampak kotor dan tak terawat karena hanya kakekku sendiri yang menempatinya,nenekku telah menghadap memenuhi panggilan illahi. Ibuku tinggal bersamaku karena ibuku hanya hidup seorang diri yang telah di uji kesabarannya menjalani hidup ini. Dari aku kecil hingga saat ini ibuku tak bisa melihat isi dunia ini..kedua penglihatannya telah di ambil oleh allah semenjak kecelakaan menimpa ibuku..ayahku suami ibuku juga telah dipanggil sang kholik..masya allah..betapa menderitanya ibuku..
Tok..tok..tok..! Ku ketuk pintu rumah itu..sambil ku ucapkan salam..tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat seorang kakek yang bertubuh renta karena di telan usia. Kakek..! Aku memanggilnya..ku jabat tangannya lalu ku cium tangan itu. "aku wawan kek.." itu adalah nama panggilanku dari kecil. Masya allah, mari wan masuk.kemana aja wan, sudah lama tak pulang, kakek kangen, kakek sekarang hanya sendiri..nenekmu telah pergi mendahului kakek. Kami bercerita panjang lebar, menceritakan kehidupan masing masing....
Bersambung....
27 November 2008
24 November 2008
langkahku
beginilah kalau kerja menjadi buruh pabrik...
mau posting aja ga sempet...ga ada inspirasi buat posting. hari minggu kemarin aja masuk...hari yang seharusnya buat istirahat dan refresing, tapi ga papa yang penting masih bisa kerja, hidup harus dinikmati bukan di sesali. semua itu aku yakin ada hikmah terpendam yang tak mampu di tembus oleh pemikiran yang dangkal. mungkin ini adalah awal dari langkah langkahku yang tak tahu dimana finish nya. langkah menuju kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. innallaha maasyobirin...sabarr...hidup itu hanya sementara...akhirat itu kekal, hanya yang terbaik saja yang akan mendapatkan kenikmatan yang kekal beretemu dengan penciptanya..
mau posting aja ga sempet...ga ada inspirasi buat posting. hari minggu kemarin aja masuk...hari yang seharusnya buat istirahat dan refresing, tapi ga papa yang penting masih bisa kerja, hidup harus dinikmati bukan di sesali. semua itu aku yakin ada hikmah terpendam yang tak mampu di tembus oleh pemikiran yang dangkal. mungkin ini adalah awal dari langkah langkahku yang tak tahu dimana finish nya. langkah menuju kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. innallaha maasyobirin...sabarr...hidup itu hanya sementara...akhirat itu kekal, hanya yang terbaik saja yang akan mendapatkan kenikmatan yang kekal beretemu dengan penciptanya..
20 November 2008
sabar
"Urusan orang mukmin itu sungguh mengagumkan, semua hal baik
baginya, dan itu hanya terjadi pada orang yang beriman. Jika
memperoleh kesenangan dia bersyukur dan itu baik baginya, dan jika
ditimpa kesusahan dia bersabar dan itu baik baginya." (HR Bukhari
dan Muslim)
Seorang ibu setengah baya yang masih terlihat cantik, kaya raya karena punya
banyak perusahaan , tokoh masyarakat yang sukses, punya suami dan anak-anak yang
mencintainya, dan segudang status "prestasi" dunia lainnya sedang terbaring di sebuah
rumah sakit kanker kelas satu. Dokter memvonis bahwa stadium sakit kankernya masih
dini alias stadium penyakitnya masih rendah dan masih punya harapan sembuh.
"Banyak-banyak berdoa dan bersabar semoga Allah swt. memberi kesembuhan pada
Ibu," begitu kata dokter spesialis kanker.
Walau sudah dijelaskan penyakitnya masih dini, namun si ibu itu merasa dirinya
tinggal "menghitung hari" alias menunggu pulang ke rahmatullah. Ia juga berpikir
dirinya sudah tak bernilai apa-apa lagi karena beberapa hari lagi kanker itu merenggut
nyawanya. Harta yang banyak yang selama ini dikumpulkan terasa sia-sia saja. Rasa
kesal, marah, tidak menerima takdir Allah swt., menyalah-nyalahkan para dokter, dan
lain-lain campur aduk menjadi satu. "Bagaimana mungkin aku harus cepat mati?
Padahal aku belum puas menikmati hidup! Aku belum siap mati!" gumam si ibu terusmenerus.
Selang beberapa hari, si ibu kini punya teman satu kamar, pasien kanker lainnya.
Ternyata ia gadis cilik kira-kira seusia anaknya yang masih SMP. Ia datang dengan
tubuh kurus dan wajah pucat, namun selalu murah senyum. Cara bicaranya selalu
lembut, dan ia selalu berjilbab rapi. "Oh, kasihan sekali anak ini, masih kecil sudah
kena kanker," pikir si ibu.
Lama-lama timbul keakraban di antara mereka. Mereka sering mengobrol.
Sebenarnya si ibu sering kesal karena gadis cilik ini banyak bicara masalah agama
Islam. Apalagi kalau sudah bicara tentang bersyukur, bersabar, optimis menghadapi
hidup ini, ridha Allah, dan lain-lain membuat si ibu semakin mendongkol. Tapi itu tak
berlangsung lama. Si ibu tak ngedumel sendirian lagi dan akhirnya menyukai setiap kata
yang keluar dari mulut gadis cilik. Yang paling senang bila ia diceritakan tentang
kondisi di luar rumah sakit bertingkat itu, karena kebetulan tempat tidur si gadis cilik
dekat dengan jendela. Si gadis cilik biasa menceritakan kondisi luar rumah sesudah ia
selesai tilawah Al-Qur`an beberapa halaman.
"Banyak anak kecil bermain di taman di bawah sana, pohon-pohon indah
menghijau, bunga-bunga berwarna-warni, burung-burung berkicau bersahut-sahutan,
dan di bawah sana tak banyak kendaraan yang lewat," si gadis cillik menceritakan
kepada si ibu itu setiap pagi.
Tiga hari kemudian, di pagi hari, si ibu menanyakan kepada suster ke mana si
gadis cilik itu. Apakah ia sudah sembuh, kemudian pulang? Suster dengan menarik
napas dalam-dalam menjawab bahwa si gadis cilik itu sudah meninggal, karena
penyakit kankernya parah sekali. Si ibu begitu sedih. Lalu ia kembali minta diceritakan
kondisi indah di luar rumah sakit, tapi kali ini kepada suster. Suster juga dengan
menarik napas dalam-dalam mengatakan bahwa sebenarnya di hadapan jendela tempat
tidur almarhumah si gadis cilik tidak ada pemandangan yang indah. Yang ada hanyalah
tembok kokoh bercat putih tanpa pemandangan sama sekali!
"Lantas, mengapa gadis itu bercerita kepada saya tentang lingkungan yang indah
di bawah sana?" tanya si ibu penasaran. "Oh, itu karena dia ingin menghibur Anda, dan
membuat Anda tidak putus asa menghadapi penyakit," jelas si suster,"dia juga titip
pesan ke saya, kalau dia minta maaf atas kesalahannya selama ini, dan pesannya juga
bahwa jangan berat hati untuk bersabar dan bersyukur kepada Allah
baginya, dan itu hanya terjadi pada orang yang beriman. Jika
memperoleh kesenangan dia bersyukur dan itu baik baginya, dan jika
ditimpa kesusahan dia bersabar dan itu baik baginya." (HR Bukhari
dan Muslim)
Seorang ibu setengah baya yang masih terlihat cantik, kaya raya karena punya
banyak perusahaan , tokoh masyarakat yang sukses, punya suami dan anak-anak yang
mencintainya, dan segudang status "prestasi" dunia lainnya sedang terbaring di sebuah
rumah sakit kanker kelas satu. Dokter memvonis bahwa stadium sakit kankernya masih
dini alias stadium penyakitnya masih rendah dan masih punya harapan sembuh.
"Banyak-banyak berdoa dan bersabar semoga Allah swt. memberi kesembuhan pada
Ibu," begitu kata dokter spesialis kanker.
Walau sudah dijelaskan penyakitnya masih dini, namun si ibu itu merasa dirinya
tinggal "menghitung hari" alias menunggu pulang ke rahmatullah. Ia juga berpikir
dirinya sudah tak bernilai apa-apa lagi karena beberapa hari lagi kanker itu merenggut
nyawanya. Harta yang banyak yang selama ini dikumpulkan terasa sia-sia saja. Rasa
kesal, marah, tidak menerima takdir Allah swt., menyalah-nyalahkan para dokter, dan
lain-lain campur aduk menjadi satu. "Bagaimana mungkin aku harus cepat mati?
Padahal aku belum puas menikmati hidup! Aku belum siap mati!" gumam si ibu terusmenerus.
Selang beberapa hari, si ibu kini punya teman satu kamar, pasien kanker lainnya.
Ternyata ia gadis cilik kira-kira seusia anaknya yang masih SMP. Ia datang dengan
tubuh kurus dan wajah pucat, namun selalu murah senyum. Cara bicaranya selalu
lembut, dan ia selalu berjilbab rapi. "Oh, kasihan sekali anak ini, masih kecil sudah
kena kanker," pikir si ibu.
Lama-lama timbul keakraban di antara mereka. Mereka sering mengobrol.
Sebenarnya si ibu sering kesal karena gadis cilik ini banyak bicara masalah agama
Islam. Apalagi kalau sudah bicara tentang bersyukur, bersabar, optimis menghadapi
hidup ini, ridha Allah, dan lain-lain membuat si ibu semakin mendongkol. Tapi itu tak
berlangsung lama. Si ibu tak ngedumel sendirian lagi dan akhirnya menyukai setiap kata
yang keluar dari mulut gadis cilik. Yang paling senang bila ia diceritakan tentang
kondisi di luar rumah sakit bertingkat itu, karena kebetulan tempat tidur si gadis cilik
dekat dengan jendela. Si gadis cilik biasa menceritakan kondisi luar rumah sesudah ia
selesai tilawah Al-Qur`an beberapa halaman.
"Banyak anak kecil bermain di taman di bawah sana, pohon-pohon indah
menghijau, bunga-bunga berwarna-warni, burung-burung berkicau bersahut-sahutan,
dan di bawah sana tak banyak kendaraan yang lewat," si gadis cillik menceritakan
kepada si ibu itu setiap pagi.
Tiga hari kemudian, di pagi hari, si ibu menanyakan kepada suster ke mana si
gadis cilik itu. Apakah ia sudah sembuh, kemudian pulang? Suster dengan menarik
napas dalam-dalam menjawab bahwa si gadis cilik itu sudah meninggal, karena
penyakit kankernya parah sekali. Si ibu begitu sedih. Lalu ia kembali minta diceritakan
kondisi indah di luar rumah sakit, tapi kali ini kepada suster. Suster juga dengan
menarik napas dalam-dalam mengatakan bahwa sebenarnya di hadapan jendela tempat
tidur almarhumah si gadis cilik tidak ada pemandangan yang indah. Yang ada hanyalah
tembok kokoh bercat putih tanpa pemandangan sama sekali!
"Lantas, mengapa gadis itu bercerita kepada saya tentang lingkungan yang indah
di bawah sana?" tanya si ibu penasaran. "Oh, itu karena dia ingin menghibur Anda, dan
membuat Anda tidak putus asa menghadapi penyakit," jelas si suster,"dia juga titip
pesan ke saya, kalau dia minta maaf atas kesalahannya selama ini, dan pesannya juga
bahwa jangan berat hati untuk bersabar dan bersyukur kepada Allah
Sahabat sejati
Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih2 pergi menjauh. Dan manusia hanyalah butir pasir berserak di hamparan jaman, yg mengikuti kemana angin takdir berhembus. Dan mungkin waktu melapukkan batu, mengubah besi menjadi karat, membuat dunia menjadi tidak yang seperti kita kira. Walau sungguh waktu berkuasa. Persahabatan tak kan pudar olehnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)